Vibe Coding: Ketika Ide, AI, dan Keberanian Mencoba Bertemu

July 05, 2026


Beberapa waktu lalu, saya mulai membangun sebuah aplikasi bernama SIMARGA, sebuah sistem informasi untuk membantu pengelolaan aset secara lebih rapi, modern, dan mudah diakses.

Awalnya, semuanya terasa seperti ide yang terlalu besar.

Ada banyak hal yang harus dipikirkan: data aset, pegawai, ruangan, kendaraan, KIR, tampilan aplikasi, akses internet, backup, hingga bagaimana sistem ini bisa digunakan dengan nyaman oleh orang lain. Kalau dikerjakan dengan cara lama, mungkin saya akan terlalu lama berhenti di tahap “nanti dulu”.

Tapi kali ini berbeda.

Saya mencoba membangunnya dengan pendekatan yang sekarang sering disebut vibe coding.

Logo Simarga

Vibe coding bukan berarti asal membuat aplikasi tanpa arah. Bagi saya, vibe coding adalah cara bekerja dengan mengalirkan ide, menjelaskan kebutuhan, meminta bantuan AI, menguji hasilnya, lalu memperbaikinya sedikit demi sedikit.

Dalam proses ini, saya menggunakan ChatGPT sebagai teman berpikir dan Antigravity sebagai alat bantu untuk mengerjakan perubahan kode.

ChatGPT membantu saya menyusun alur, membuat instruksi, membaca error, dan mencari solusi ketika ada bagian yang tidak berjalan. Antigravity membantu menerjemahkan instruksi itu menjadi perubahan nyata pada aplikasi.

Yang menarik, prosesnya tidak selalu mulus.

Kadang fitur sudah dibuat, tapi belum muncul di aplikasi. Kadang tampilannya bagus di desktop, tapi berantakan di HP. Kadang data sudah ada, tapi tidak muncul karena filter kecil yang salah. Kadang masalahnya bukan di kodenya, tapi di cache, Docker image, atau build lama yang masih berjalan.

Dari situ saya sadar, membangun aplikasi dengan AI bukan berarti semuanya otomatis selesai.

AI mempercepat proses, tetapi manusia tetap harus mengarahkan. Manusia tetap harus memeriksa, mencoba, membandingkan, dan mengambil keputusan.

Di sinilah letak serunya vibe coding.

Tampilan Menu Simarga

Kita tidak harus menunggu menjadi programmer sempurna untuk mulai membuat sesuatu. Kita bisa mulai dari masalah nyata, lalu memecahnya menjadi langkah-langkah kecil. Setiap error menjadi petunjuk. Setiap revisi membuat aplikasi semakin matang.

SIMARGA yang awalnya hanya ide, perlahan berubah menjadi sistem yang bisa login, mengelola data, mencetak KIR, memilih aset, berjalan di NAS, terbuka melalui internet, dan bahkan menyesuaikan tampilan di smartphone.

Bagi saya, pengalaman ini bukan hanya tentang membuat aplikasi.

Ini tentang membuktikan bahwa ide bisa bergerak lebih cepat ketika kita berani mencoba, berani bertanya, dan berani belajar bersama teknologi.

Vibe coding membuat proses membangun aplikasi terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih mungkin dilakukan.

Bukan karena AI melakukan semuanya.

Tetapi karena AI membantu kita melangkah lebih jauh dari yang sebelumnya kita kira bisa.

Dan mungkin, di masa depan, banyak aplikasi kecil yang berguna untuk kantor, sekolah, komunitas, atau bisnis lokal akan lahir bukan dari tim besar, tetapi dari seseorang yang punya masalah nyata, ide sederhana, dan keberanian untuk mulai mengetik prompt pertamanya.


You Might Also Like

0 komentar